Dalam bisnis, efisiensi tidak selalu datang dari keputusan besar. Terkadang, perubahan kecil pada biaya operasional dapat memberikan dampak yang berarti ketika dikalikan dengan ribuan hingga jutaan transaksi.
Salah satu biaya yang patut diperhatikan adalah Merchant Discount Rate (MDR), yaitu biaya transaksi yang dikenakan kepada merchant ketika menerima pembayaran menggunakan metode tertentu, termasuk QRIS.
Kabar baiknya, Bank Indonesia (BI) mengumumkan perluasan kebijakan MDR QRIS 0% yang berlaku efektif mulai 1 Oktober 2026. Melalui kebijakan ini, transaksi QRIS hingga Rp100.000 mendapatkan tarif MDR 0% untuk seluruh kategori merchant, termasuk usaha kecil, menengah, dan besar. Sementara itu, tarif 0% bagi usaha mikro tetap berlaku untuk transaksi hingga Rp500.000.
Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan efisiensi biaya transaksi sekaligus memperluas manfaat digitalisasi pembayaran bagi pelaku usaha.
Bagi perusahaan yang memiliki banyak transaksi harian, jaringan gerai yang luas, atau volume pembayaran yang terus bertumbuh, perubahan ini layak diperhatikan. Bukan hanya karena biaya transaksi berpotensi lebih efisien, tetapi juga karena pembayaran merupakan bagian penting dari pengelolaan operasional dan pengalaman pelanggan.
Apa Itu MDR QRIS dan Mengapa Penting bagi Bisnis?
MDR atau Merchant Discount Rate adalah biaya yang dikenakan kepada merchant atas transaksi pembayaran yang diproses melalui sistem pembayaran tertentu. Besarannya mengikuti ketentuan yang berlaku berdasarkan kategori merchant dan jenis transaksi.
Dalam konteks QRIS, MDR bukan biaya tambahan yang seharusnya dibebankan kepada konsumen. Biaya ini merupakan bagian dari biaya penerimaan pembayaran yang perlu diperhitungkan oleh merchant dalam mengelola operasionalnya.
Mengapa hal ini penting?
Bayangkan sebuah perusahaan ritel menerima ribuan transaksi QRIS setiap hari. Meskipun biaya MDR per transaksi terlihat kecil, akumulasinya dapat menjadi komponen biaya yang perlu diperhatikan dalam laporan keuangan.
Hal serupa berlaku untuk bisnis restoran, jaringan minimarket, penyedia layanan, hingga perusahaan yang menerima pembayaran langsung di gerai.
Dengan memahami struktur MDR, bisnis dapat memperkirakan biaya pembayaran secara lebih akurat, mengevaluasi efisiensi setiap kanal transaksi, dan mengambil keputusan berdasarkan data.
Apa yang Berubah dalam Kebijakan MDR QRIS 0% Mulai 1 Oktober 2026?
Berdasarkan siaran pers Bank Indonesia tanggal 17 Agustus 2026, perluasan kebijakan MDR QRIS 0% mencakup ketentuan berikut.

Sebelumnya, merchant usaha kecil, menengah, dan besar pada kategori reguler dikenakan MDR QRIS sebesar 0,7%. Dengan kebijakan baru, transaksi hingga Rp100.000 mendapatkan tarif 0%.
Artinya, manfaat kebijakan ini tidak lagi terbatas pada usaha mikro. Perusahaan dengan skala operasional lebih besar juga dapat memperoleh efisiensi biaya dari transaksi yang memenuhi kriteria tersebut.
Seberapa Besar Potensi Efisiensi Biaya MDR QRIS 0%?
Bayangkan sebuah perusahaan ritel memiliki 10 gerai, dengan masing-masing gerai memproses 500 transaksi QRIS per hari. Sebanyak 40% transaksi memiliki nominal maksimal Rp100.000, dengan rata-rata transaksi Rp75.000.
Berikut ilustrasi potensi efisiensinya:
- Total transaksi: 5.000 transaksi per hari.
- Transaksi yang memenuhi kriteria: 2.000 transaksi per hari.
- Total nilai transaksi yang memenuhi kriteria: Rp150 juta per hari.
- Biaya MDR sebelumnya (0,7%): Rp1,05 juta per hari.
- Biaya MDR dengan tarif 0%: Rp0 untuk transaksi yang memenuhi kriteria.
Dengan asumsi volume transaksi stabil dan operasional berlangsung 30 hari, potensi efisiensi biaya mencapai Rp31,5 juta per bulan.
Angka tersebut merupakan simulasi, bukan jaminan penghematan aktual. Hasil sebenarnya bergantung pada kategori merchant, jumlah transaksi yang memenuhi kriteria, serta penerapan tarif yang berlaku.
Namun, simulasi tersebut menunjukkan satu hal: biaya yang tampak kecil per transaksi dapat menghasilkan dampak finansial yang signifikan ketika volume transaksi meningkat.
Bagi tim keuangan, informasi ini dapat menjadi dasar untuk memperbarui proyeksi biaya pembayaran dan mengevaluasi anggaran operasional.
QRIS Semakin Relevan bagi Bisnis dengan Volume Transaksi Tinggi
Perluasan MDR QRIS 0% hadir ketika penggunaan pembayaran digital terus berkembang di Indonesia.
Dalam siaran pers yang sama, BI mencatat bahwa hingga Juni 2026:
- Jumlah pengguna QRIS mencapai 65,77 juta pengguna.
- QRIS telah menjangkau 44,86 juta merchant, dengan 96,68% di antaranya merupakan UMKM.
- Sepanjang semester I 2026, QRIS mencatat 12,55 miliar transaksi.
- Nilai transaksi mencapai Rp1,12 kuadriliun, tumbuh 93,92% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Data tersebut memperlihatkan besarnya skala ekosistem QRIS dan relevansinya dalam aktivitas ekonomi masyarakat.
Bagi bisnis menengah dan besar, perkembangan ini penting untuk diperhatikan. Pembayaran digital bukan lagi sekadar alternatif untuk pelanggan yang tidak membawa uang tunai. QRIS telah menjadi salah satu kanal pembayaran yang perlu dipertimbangkan dalam strategi penerimaan pembayaran, khususnya untuk bisnis yang melayani banyak pelanggan setiap hari.
Dengan semakin luasnya adopsi, perusahaan perlu memastikan bahwa metode pembayaran yang tersedia sesuai dengan kebutuhan pelanggan sekaligus mendukung pengelolaan operasional secara efisien.
Bukan Hanya soal Biaya, tetapi Juga Strategi Pembayaran
MDR QRIS 0% memberikan peluang efisiensi, tetapi perusahaan sebaiknya tidak berhenti pada pertanyaan tentang berapa besar biaya yang dapat dihemat. Ada beberapa aspek lain yang perlu diperhatikan.
1. Evaluasi Struktur Biaya Pembayaran
Perusahaan dapat mulai dengan memetakan volume transaksi berdasarkan metode pembayaran, nominal, dan lokasi operasional.
Langkah ini membantu tim keuangan memahami kanal pembayaran mana yang memiliki kontribusi terbesar terhadap biaya transaksi. Data tersebut juga dapat digunakan untuk memperbarui anggaran dan mengevaluasi efisiensi operasional setelah kebijakan baru diterapkan.
2. Sesuaikan Sistem Pembayaran dengan Kebutuhan Operasional
Bisnis dengan banyak gerai atau volume transaksi tinggi membutuhkan proses pembayaran yang konsisten dan mudah dipantau.
Untuk transaksi di gerai, misalnya, perusahaan dapat mengevaluasi apakah penggunaan QRIS statis atau dinamis lebih sesuai dengan alur operasionalnya. QRIS dinamis memungkinkan nominal pembayaran ditampilkan secara spesifik pada perangkat atau sistem yang digunakan, sehingga dapat mendukung proses pembayaran yang lebih terstruktur.
Pemilihan metode tetap perlu mempertimbangkan kebutuhan bisnis, sistem yang tersedia, dan pengalaman pelanggan.
3. Perhatikan Pengalaman Pelanggan
Biaya transaksi merupakan bagian dari perspektif bisnis, tetapi kemudahan pembayaran juga memengaruhi pengalaman pelanggan.
Pilihan pembayaran yang sesuai dengan kebiasaan pelanggan dapat membantu mengurangi hambatan pada tahap checkout. Karena itu, perusahaan perlu melihat pembayaran sebagai bagian dari keseluruhan perjalanan pelanggan, bukan sekadar tahap terakhir setelah transaksi penjualan terjadi.
4. Tetap Evaluasi Kinerja Pembayaran secara Menyeluruh
Tarif MDR yang lebih rendah tidak otomatis berarti seluruh biaya pembayaran menjadi nol.
Perusahaan tetap perlu mengevaluasi aspek lain, seperti proses rekonsiliasi, pelaporan transaksi, pengelolaan pengembalian dana jika relevan, serta dukungan ketika terjadi kendala pembayaran.
Tujuannya bukan hanya mendapatkan biaya transaksi yang efisien, melainkan membangun proses pembayaran yang dapat mendukung pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan.
Apakah MDR QRIS 0% Berarti Semua Transaksi QRIS Gratis?
Penting untuk memahami bahwa MDR 0% berlaku sesuai kategori merchant dan batas nominal transaksi yang ditetapkan. Untuk kebijakan yang berlaku mulai 1 Oktober 2026, transaksi hingga Rp100.000 mendapatkan MDR 0% bagi seluruh kategori merchant reguler, sedangkan usaha mikro tetap memperoleh MDR 0% untuk transaksi hingga Rp500.000.
Transaksi yang melampaui batas tersebut tetap mengikuti tarif sesuai ketentuan yang berlaku.
Selain itu, MDR 0% tidak serta-merta berarti seluruh layanan pembayaran bebas biaya. Biaya layanan lain, jika ada, perlu diperiksa berdasarkan ketentuan penyedia jasa pembayaran dan perjanjian merchant.
Oleh karena itu, perusahaan perlu memahami kategori merchant yang terdaftar, memeriksa struktur biaya yang berlaku, dan memastikan implementasi kebijakan sesuai dengan ketentuan terbaru.
Mengoptimalkan Pembayaran Digital untuk Pertumbuhan Bisnis
Perluasan kebijakan MDR QRIS 0% menunjukkan bahwa efisiensi biaya pembayaran menjadi salah satu bagian penting dalam pengembangan ekosistem ekonomi digital Indonesia.
Bagi bisnis, kebijakan ini dapat menjadi momentum untuk meninjau kembali strategi pembayaran, mulai dari struktur biaya dan pemilihan metode pembayaran hingga pengelolaan transaksi dan pengalaman pelanggan.
Namun, efisiensi yang berkelanjutan tidak hanya ditentukan oleh tarif. Perusahaan juga perlu mempertimbangkan keandalan proses pembayaran, kemudahan pemantauan transaksi, dukungan ketika terjadi kendala, serta kesesuaian solusi pembayaran dengan kebutuhan operasionalnya.
Pada akhirnya, sistem pembayaran yang tepat bukan hanya membantu bisnis menerima uang dari pelanggan. Sistem tersebut juga perlu mendukung pengelolaan transaksi yang lebih terstruktur dan memberikan fondasi bagi pertumbuhan bisnis jangka panjang.
NICEPAY memahami bahwa setiap bisnis memiliki kebutuhan pembayaran yang berbeda. Dengan mempertimbangkan skala operasional, karakteristik transaksi, dan kebutuhan pengelolaan pembayaran, perusahaan dapat mengevaluasi solusi pembayaran yang paling sesuai untuk mendukung aktivitas bisnisnya.
Ingin mengevaluasi kebutuhan pembayaran digital untuk bisnis Anda? Hubungi tim NICEPAY untuk mendiskusikan solusi pembayaran yang sesuai dengan kebutuhan operasional perusahaan Anda.
