Cashless Effect: Pembayaran Digital Makin Mudah, Apakah Jadi Lebih Boros?

by Blog Nicepay
5 views
wanita membawa paperbag dan pembayaran dengan QRIS

Pernah Merasa Rp50.000 Lebih “Mahal” Saat Dibayar Tunai?

Bayangkan dua situasi berikut. Kamu sedang membeli makan siang seharga Rp50.000. Kalau membayar dengan uang tunai, kamu mengeluarkan selembar Rp50.000 dari dompet, dan rasanya mungkin: “Wah, Rp50.000 juga.”

Sekarang situasinya sama, tetapi pembayarannya menggunakan QRIS. Buka aplikasi, scan, masukkan nominal, klik bayar — selesai. Tidak ada uang yang berpindah tangan, tidak ada dompet yang lebih tipis, tidak ada lembaran uang yang harus direlakan. Mungkin reaksinya berubah menjadi: “Ah, cuma scan.”

Nominalnya tetap Rp50.000. Tetapi pengalaman membayarnya terasa berbeda. Dan ternyata, perbedaan kecil ini menarik perhatian para peneliti perilaku konsumen.

QRIS Sedang Tumbuh Pesat. Tapi Bukan Cuma Soal Teknologi

Penggunaan pembayaran digital di Indonesia terus meningkat. Bank Indonesia mencatat volume transaksi pembayaran digital mencapai 16,07 miliar transaksi pada kuartal II 2026, tumbuh 36,88% secara tahunan. Di dalamnya, transaksi QRIS tumbuh jauh lebih tinggi, yaitu 100,12% YoY, didukung oleh meningkatnya jumlah pengguna dan merchant.

Bahkan hingga Juni 2026, jumlah pengguna QRIS telah mencapai 65,77 juta, sementara jumlah merchant mencapai 44,86 juta. Pada semester pertama 2026, QRIS mencatat 12,55 miliar transaksi.

Angka-angka tersebut menunjukkan satu hal: cashless payment semakin menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari. Dan ketika sebuah teknologi pembayaran menjadi kebiasaan, pertanyaannya tidak lagi sekadar “seberapa banyak orang yang menggunakannya?”, tetapi juga “bagaimana perubahan cara membayar ini mengubah cara konsumen berbelanja?”

Kenapa Cashless Bisa Terasa Lebih “Ringan”?

Salah satu konsep yang sering digunakan untuk menjelaskan fenomena ini adalah cashless effect. Sederhananya, cashless effect menggambarkan kecenderungan konsumen untuk mengeluarkan lebih banyak uang ketika menggunakan metode pembayaran non-tunai dibandingkan uang tunai.

Sebuah meta-analysis yang diterbitkan dalam Journal of Retailing menganalisis 71 penelitian mengenai hubungan metode pembayaran dengan perilaku belanja. Hasilnya menemukan adanya kecenderungan konsumen membelanjakan lebih banyak ketika menggunakan metode pembayaran cashless dibandingkan cash. Efek ini juga tidak selalu sama dalam setiap situasi: pengaruhnya cenderung lebih kuat pada pembelian yang berkaitan dengan status atau citra, sementara lebih lemah pada konteks seperti donasi dan tip.

Jadi, bukan berarti QRIS = pasti bikin boros. Yang lebih tepat: cara kita membayar dapat memengaruhi cara kita merasakan dan mengambil keputusan atas pengeluaran.

Uang Tunai Punya “Friction”

Ada satu hal yang dimiliki uang tunai tetapi tidak selalu dirasakan ketika kita menggunakan pembayaran digital: friction. Bukan friction dalam arti teknis, tentu saja, melainkan semacam hambatan psikologis kecil ketika kita mengeluarkan uang.

Saat membayar tunai, kita mengambil uang dari dompet, menghitung nominal, menyerahkan uang, menerima kembalian, dan melihat jumlah uang di dompet berkurang. Ada proses fisik yang membuat transaksi terasa nyata. Sebaliknya, pembayaran digital dapat memangkas banyak proses tersebut Semakin sedikit effort yang dibutuhkan untuk membayar, semakin kecil pula “momen berhenti” sebelum pembelian terjadi.

Penelitian dari Swiss National Bank juga menemukan bahwa konsumen yang memiliki kecenderungan present bias (kecenderungan seseorang untuk lebih memilih kepuasan atau imbalan instan saat ini daripada manfaat yang jauh lebih besar di masa depan) dapat mengeluarkan lebih banyak uang, ketika semakin sering menggunakan instrumen pembayaran cashless, karena pengeluaran tidak lagi dibatasi oleh jumlah uang tunai yang sedang ada di tangan.

Dari “Harus Bayar” Menjadi “Tinggal Bayar”

Di sinilah konsep frictionless payment menjadi menarik. Bayangkan membeli sesuatu secara online. Dulu mungkin perlu: pilih produk → masukkan data → pilih metode pembayaran → transfer → konfirmasi. Sekarang? Pilih → checkout → bayar. Semakin sedikit langkah, semakin kecil hambatan antara keinginan dan transaksi.

Ini sangat penting dalam consumer journey, karena pelanggan tidak hanya mengevaluasi “apakah saya mau membeli produk ini?”, tetapi juga secara tidak sadar menghadapi pertanyaan “seberapa mudah saya bisa membelinya sekarang?” Jika jawabannya adalah sangat mudah, keputusan pembelian dapat terasa jauh lebih ringan.

Apa Hubungannya dengan Impulse Buying?

Coba perhatikan pola sederhana ini. Kamu awalnya hanya ingin membeli kopi. Kemudian melihat: Coffee Rp30.000, add-on Rp10.000, dessert Rp25.000. Awalnya “saya cuma mau kopi”, lalu “tambah dessert, deh”. Scan. Selesai.

Masalahnya bukan Rp25.000 itu sendiri, tetapi karena tambahan tersebut terasa seperti keputusan kecil. Dan keputusan kecil yang dilakukan berkali-kali dapat menjadi angka yang cukup besar di akhir bulan.

Dalam konteks ini, kemudahan pembayaran bukan satu-satunya penyebab impulse buying. Harga, promosi, kebutuhan, suasana hati, desain checkout, rekomendasi produk, hingga kebiasaan konsumen juga berperan. Namun, metode pembayaran dapat menjadi salah satu bagian dari pengalaman tersebut.

Promo dan Cashback Ikut Memainkan Peran

Ada faktor lain yang membuat pembayaran digital terasa semakin menarik: insentif. Promo, cashback, voucher, gratis biaya tertentu, potongan harga — bagi konsumen, pembayaran akhirnya tidak hanya terasa mudah, tetapi juga terasa menguntungkan.

Misalnya, harga Rp100.000 dengan cashback Rp20.000. Otak kita bisa lebih mudah memprosesnya sebagai “cuma Rp80.000.” Padahal keputusan awalnya tetap: “apakah saya memang perlu membeli barang seharga Rp100.000?”

Di sinilah bisnis perlu memahami bahwa payment experience tidak berdiri sendiri. Ia berinteraksi dengan pricing, promotion, product experience, dan customer journey secara keseluruhan.

Tapi Cashless Effect Tidak Berarti Semua Orang Jadi Boros

Ini bagian yang penting. Jangan sampai kesimpulannya menjadi “jangan pakai QRIS kalau tidak mau boros” — itu terlalu sederhana.

Riset tentang cashless effect sendiri menunjukkan bahwa pengaruh metode pembayaran dapat berbeda berdasarkan konteks dan karakteristik konsumen. Bahkan meta-analysis yang menggabungkan puluhan penelitian menemukan bahwa efek tersebut dapat melemah seiring semakin terbiasanya masyarakat menggunakan pembayaran cashless.

Selain itu, pembayaran digital juga memiliki keuntungan yang tidak dimiliki uang tunai. Transaksi lebih mudah dicatat, riwayat pembayaran dapat dilihat kembali, dan pembayaran dapat dilakukan tanpa membawa uang fisik. Bagi bisnis, transaksi digital dapat membantu menciptakan pengalaman pembayaran yang lebih praktis dan terintegrasi.

Jadi persoalannya bukan cash vs cashless, melainkan bagaimana metode pembayaran memengaruhi pengalaman dan keputusan pelanggan.

Bagi Bisnis, “Makin Mudah Bayar” Bisa Jadi Makin Penting

Sekarang kita balik perspektifnya. Bayangkan pelanggan sudah melihat iklan, mengunjungi website, membaca informasi produk, membandingkan harga, memilih produk, lalu sampai di halaman pembayaran. Semua perjalanan itu bisa berakhir hanya karena satu hal: checkout terlalu merepotkan.

Metode pembayaran yang terbatas, form terlalu panjang, proses lambat, pembayaran gagal, atau tidak ada metode pembayaran yang biasa digunakan pelanggan — pada titik ini, bisnis bukan hanya kehilangan transaksi. Bisnis berpotensi kehilangan momentum pembelian, karena ketika niat membeli sedang tinggi, tambahan friction sekecil apa pun dapat menjadi alasan untuk menunda.

Customer Experience Tidak Berhenti di Tombol “Buy”

Banyak bisnis masih melihat payment sebagai tahap administratif: produk sudah dipilih, tinggal bayar. Padahal, bagi pelanggan, pembayaran adalah bagian dari pengalaman membeli. Customer journey yang bagus seharusnya tidak berhenti ketika pelanggan menekan tombol checkout — ia harus selesai dengan perasaan “saya berhasil membayar dengan mudah.”

Itulah mengapa konsep seamless payment experience semakin relevan. Bagi bisnis skala menengah hingga enterprise, pengalaman pembayaran dapat menjadi bagian dari strategi customer experience secara keseluruhan. Pertanyaannya bukan lagi sekadar “apakah kita menerima pembayaran digital?”, tetapi “seberapa mudah pelanggan menyelesaikan transaksi bersama kita?”

Dari Sisi Konsumen, Payment Semakin Effortless

Pada akhirnya, mungkin memang itu arah evolusi pembayaran. Dulu kita harus membawa uang, kemudian kartu, kemudian mobile banking, kemudian QR. Sekarang berbagai metode pembayaran semakin terintegrasi ke dalam aktivitas sehari-hari, dan pembayaran ideal bahkan mulai terasa seperti bukan bagian yang perlu dipikirkan.

Justru di situlah menariknya, karena ketika pembayaran semakin tidak terasa sebagai “proses”, ia semakin menyatu dengan pengalaman konsumsi itu sendiri. Bagi konsumen, ini berarti lebih cepat, lebih praktis, lebih effortless. Bagi bisnis, artinya ekspektasi pelanggan terhadap pengalaman pembayaran juga semakin tinggi.

Jadi, Apakah QRIS Bikin Kita Boros?

Tidak sesederhana itu. QRIS bukan tombol rahasia yang membuat saldo rekening tiba-tiba menghilang. Namun, cara kita membayar memang dapat memengaruhi bagaimana kita merasakan pengeluaran, mengambil keputusan, dan menyelesaikan pembelian.

Ketika uang tidak lagi berbentuk sesuatu yang harus kita serahkan secara fisik, transaksi dapat terasa lebih ringan. Dan ketika proses pembayaran semakin cepat dan seamless, jarak antara “saya ingin membeli” dan “saya sudah membayar” menjadi semakin pendek.

Bagi konsumen, ini berarti convenience. Bagi bisnis, ini berarti satu hal yang tidak kalah penting: payment experience adalah bagian dari customer experience. Karena pada akhirnya, pelanggan mungkin tidak mengingat proses pembayaran yang mereka lakukan — tapi mereka akan mengingat ketika prosesnya terlalu sulit.

Payment yang Seamless, Bukan Sekadar Cashless

Pertumbuhan QRIS dan pembayaran digital menunjukkan bahwa konsumen Indonesia semakin terbiasa dengan transaksi yang cepat dan praktis. Maka, tantangan bisnis ke depan bukan hanya menyediakan pembayaran digital, tetapi memastikan payment journey mampu mengikuti ekspektasi pelanggan — mulai dari pilihan metode pembayaran, kecepatan checkout, keamanan transaksi, hingga keberhasilan pembayaran.

Karena ketika konsumen sudah terbiasa dengan pengalaman “scan, bayar, selesai”, pengalaman yang lebih rumit bisa terasa seperti mundur beberapa langkah. Cashless mungkin membuat pembayaran semakin tidak terasa. Dan bagi bisnis, justru itulah saatnya memastikan setiap transaksi tetap terasa mudah, aman, dan seamless.

Ingin menciptakan pengalaman pembayaran yang lebih seamless untuk pelanggan bisnis Anda? NICEPAY membantu bisnis menyediakan berbagai pilihan pembayaran digital dalam satu ekosistem, sehingga pelanggan dapat menyelesaikan transaksi dengan metode yang sesuai dengan kebiasaan mereka.

Kenali solusi pembayaran NICEPAY dan temukan cara membangun payment experience yang lebih seamless untuk bisnis Anda disini.