3DS atau Non-3DS? Apa Dampaknya bagi Bisnis dan Customer Experience?

by Blog Nicepay
7 views

Pernah belanja online menggunakan kartu, lalu tiba-tiba diminta melakukan verifikasi melalui aplikasi bank atau memasukkan kode OTP? Di transaksi lain, Anda mungkin cukup memasukkan detail kartu, klik Pay, dan pembayaran langsung diproses.

Kenapa bisa berbeda?

Salah satu jawabannya adalah 3-D Secure atau 3DS, sebuah mekanisme autentikasi yang digunakan dalam transaksi kartu online untuk membantu memastikan bahwa orang yang melakukan pembayaran memang merupakan pemegang kartu yang sah.

Di sisi lain, ada transaksi Non-3DS, yaitu transaksi kartu yang tidak melalui proses autentikasi 3DS. Bagi customer, perbedaannya mungkin hanya terlihat seperti satu langkah tambahan di checkout. Tetapi bagi bisnis, perbedaan ini berkaitan dengan hal yang jauh lebih besar: keamanan transaksi, fraud risk, customer experience, dan payment conversion.

Lalu, bagaimana sebenarnya 3DS bekerja? Dan kapan transaksi Non-3DS digunakan? Mari kita mulai dari dasar.

Apa Itu 3DS dalam Pembayaran Kartu?

3DS atau 3-D Secure adalah protokol keamanan yang digunakan untuk melakukan autentikasi pada transaksi kartu yang dilakukan secara online, atau biasa disebut card-not-present (CNP) transaction. Pada transaksi online, customer dan kartu tidak hadir secara fisik di hadapan merchant. Artinya, merchant dan bank perlu memiliki cara untuk membantu memastikan bahwa transaksi tersebut benar-benar dilakukan oleh pemegang kartu. Di sinilah 3DS berperan.

Secara sederhana, 3DS memungkinkan pertukaran informasi antara merchant, payment system, dan bank penerbit kartu (issuer) untuk membantu issuer menilai apakah transaksi tersebut terlihat legitimate atau berisiko. Data yang dipertimbangkan dapat mencakup informasi transaksi, metode pembayaran, hingga informasi perangkat.

Jadi, 3DS bukan sekadar “halaman OTP yang muncul setelah checkout”. Di balik layar, ada proses authentication dan risk assessment yang berlangsung sebelum transaksi dilanjutkan ke proses pembayaran.

Bagaimana 3DS Bekerja?

Bayangkan customer sedang membeli sebuah produk secara online. Alurnya secara sederhana dapat terlihat seperti ini:

Customer checkout → Memasukkan detail kartu → 3DS authentication → Authorization → Payment berhasil

Setelah merchant mengirimkan permintaan autentikasi, informasi transaksi diteruskan melalui ekosistem 3DS kepada pihak issuer. Issuer kemudian melakukan penilaian terhadap transaksi tersebut. Jika transaksi dianggap memiliki risiko rendah, customer dapat melewati proses autentikasi tambahan tanpa perlu melakukan apa pun. Ini disebut Frictionless Flow.

Jika transaksi membutuhkan konfirmasi lebih lanjut, customer dapat diarahkan ke proses autentikasi tambahan yang disebut Challenge Flow.

1. Frictionless Flow: Customer Tidak Perlu Melakukan Apa-Apa

Kata frictionless berarti proses berlangsung tanpa tambahan interaksi yang berarti dari customer. Customer tetap dapat melihat alur yang kurang lebih seperti:

Checkout → Masukkan kartu → Payment berhasil

Padahal, di belakang layar, issuer tetap melakukan proses risk assessment berdasarkan data transaksi dan informasi lain yang tersedia. Jadi, menggunakan 3DS tidak otomatis berarti customer harus memasukkan OTP setiap kali membayar.

Jika issuer dapat mengautentikasi transaksi secara otomatis dan menilai risikonya sesuai, transaksi dapat berjalan tanpa challenge. Bagi bisnis, ini penting karena security dan customer experience tidak selalu harus menjadi dua hal yang saling bertentangan.

2. Challenge Flow: Customer Diminta Melakukan Verifikasi

Jika transaksi membutuhkan autentikasi tambahan, issuer dapat meminta customer melakukan challenge. Metodenya bergantung pada issuer dan implementasi yang digunakan. Misalnya:

  • OTP atau one-time passcode
  • Konfirmasi melalui aplikasi mobile banking
  • Biometric authentication
  • Metode autentikasi lain yang didukung issuer

Dalam kondisi ini, customer memang akan melihat satu atau beberapa langkah tambahan sebelum transaksi dapat dilanjutkan.

Contohnya:

Checkout → Masukkan kartu → Verifikasi di aplikasi bank → Kembali ke checkout → Payment berhasil

Untuk customer, mungkin terasa seperti tambahan beberapa detik. Untuk bisnis dengan ribuan atau jutaan transaksi, tambahan friction tersebut menjadi bagian yang perlu diperhitungkan dalam desain payment experience.

Lalu, Apa Itu Non-3DS?

Jika 3DS melibatkan proses autentikasi melalui protokol 3DS, maka Non-3DS mengacu pada transaksi kartu yang tidak menggunakan proses autentikasi 3DS tersebut. Alurnya dapat menjadi lebih sederhana:

Checkout → Masukkan detail kartu → Authorization → Payment berhasil

Karena tidak ada proses 3DS challenge, customer tidak diarahkan ke tahap autentikasi 3DS tambahan. Hal ini dapat membuat payment flow terasa lebih singkat. Namun, ada satu hal penting yang perlu dipahami:

Non-3DS bukan berarti transaksi tersebut tidak memiliki sistem keamanan.

Transaksi tetap melalui proses authorization dan dapat melibatkan mekanisme fraud detection atau risk management lainnya, tergantung pada payment ecosystem dan konfigurasi yang digunakan. Yang berbeda adalah mekanisme autentikasinya.

Karena itu, membandingkan 3DS dan Non-3DS hanya dari pertanyaan “mana yang lebih aman?” sebenarnya terlalu sederhana. Pertanyaan yang lebih relevan bagi bisnis adalah:

Bagaimana tingkat risiko transaksi, kebutuhan autentikasi, dan customer experience dapat diseimbangkan?

3DS vs Non-3DS: Apa Perbedaannya?

Agar lebih mudah dipahami, berikut gambaran sederhananya:

Perbedaan 3DS dan Non-3DS

Perbedaan 3DS dan Non-3DS

Yang perlu diperhatikan adalah 3DS tidak selalu berarti lebih banyak friction. Dalam 3DS modern, transaksi dapat diproses melalui frictionless flow, sehingga customer tidak perlu melakukan autentikasi tambahan. Challenge baru dapat muncul ketika issuer membutuhkan konfirmasi lebih lanjut.

Kenapa Bisnis Perlu Memahami 3DS?

Untuk business owner atau financial decision-maker, 3DS mungkin terdengar seperti istilah teknis yang sebaiknya diserahkan kepada tim IT. Padahal, keputusan terkait payment authentication dapat bersinggungan langsung dengan beberapa aspek bisnis.

1. Fraud Risk

Salah satu fungsi utama 3DS adalah membantu mengurangi risiko fraud pada transaksi card-not-present. Dengan adanya pertukaran data antara merchant dan issuer, issuer memiliki lebih banyak informasi untuk membantu menilai apakah sebuah transaksi terlihat legitimate atau mencurigakan.

Untuk bisnis dengan volume transaksi online yang besar, pengelolaan fraud bukan sekadar persoalan teknis. Fraud dapat berdampak pada revenue, operational cost, customer trust, hingga proses dispute dan chargeback. Karena itu, payment authentication perlu dilihat sebagai bagian dari overall payment risk strategy.

2. Customer Experience

Di sisi lain, security yang terlalu banyak menambahkan langkah juga dapat memengaruhi pengalaman customer. Bayangkan customer sudah melewati:

Product → Cart → Checkout → Payment

Lalu masih harus melewati beberapa halaman tambahan sebelum transaksi selesai. Untuk satu transaksi, mungkin bukan masalah besar. Tetapi pada bisnis dengan volume transaksi tinggi, setiap tambahan friction dalam checkout layak diperhatikan. Inilah mengapa EMVCo mengembangkan 3DS dengan pendekatan yang memungkinkan risk-based authentication, termasuk frictionless flow, agar transaksi berisiko rendah dapat diproses dengan lebih seamless.

3. Transaction Value

Tidak semua transaksi memiliki nilai dan profil risiko yang sama. Transaksi senilai Rp100.000 tentu memiliki konteks bisnis yang berbeda dengan transaksi senilai Rp10 juta. Begitu pula antara pembelian satu kali, subscription, installment, atau transaksi dengan pola pembelian tertentu. Karena itu, bisnis perlu memahami karakter transaksi mereka sebelum menentukan payment flow yang sesuai.

Apakah 3DS Berarti Checkout Menjadi Lebih Lambat?

Tidak selalu. Ini adalah salah satu miskonsepsi yang cukup umum. Ketika orang mendengar “3DS”, yang sering terbayang adalah:

Checkout → OTP → Loading → OTP lagi → Kembali ke checkout

Padahal, 3DS modern memiliki Frictionless Flow, di mana issuer dapat melakukan autentikasi berdasarkan informasi transaksi dan risiko tanpa meminta customer melakukan langkah tambahan. Challenge hanya muncul ketika diperlukan.

Artinya, pengalaman customer dapat berbeda antara satu transaksi dengan transaksi lainnya. Satu customer bisa langsung mendapatkan approval. Customer lain mungkin perlu melakukan autentikasi tambahan. Hal tersebut dapat dipengaruhi oleh penilaian risiko dan keputusan issuer dalam proses authentication.

Bagaimana dengan Non-3DS?

Non-3DS dapat memberikan payment flow yang lebih sederhana karena tidak melibatkan autentikasi 3DS. Namun, semakin sederhana proses checkout, bukan berarti semakin sedikit hal yang perlu diperhatikan. Bisnis tetap perlu mempertimbangkan:

  • Fraud detection
  • Transaction monitoring
  • Risk management
  • Authorization rate
  • Chargeback risk
  • Customer experience
  • Jenis dan nilai transaksi

Dengan kata lain, menghilangkan satu lapisan autentikasi tidak berarti menghilangkan kebutuhan akan risk management. Justru, bisnis perlu memahami bagaimana risiko transaksi dikelola melalui mekanisme lainnya.

Jadi, Kapan Bisnis Menggunakan 3DS atau Non-3DS?

Tidak ada satu payment flow yang otomatis cocok untuk semua bisnis. Pilihan authentication dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti:

Nilai transaksi

Semakin besar nilai transaksi, semakin penting bagi bisnis untuk mempertimbangkan bagaimana risiko transaksi dikelola.

Jenis bisnis

Model bisnis dengan transaksi satu kali, subscription, installment, marketplace, travel, digital goods, atau layanan lainnya dapat memiliki kebutuhan payment yang berbeda.

Profil customer

Customer behavior, device, lokasi, histori transaksi, dan berbagai data lainnya dapat menjadi bagian dari proses risk assessment dalam ekosistem 3DS.

Target customer experience

Apakah bisnis ingin memberikan checkout yang sangat sederhana? Atau terdapat transaksi tertentu yang memang membutuhkan additional authentication? Pertanyaan seperti ini penting ketika menyusun payment flow.

Risk management

Bisnis dengan volume transaksi besar perlu melihat payment dari perspektif yang lebih luas. Bukan hanya:

“Apakah pembayaran berhasil?”

Tetapi juga:

“Apakah transaksi ini legitimate?”

“Berapa banyak transaksi yang perlu mendapatkan additional authentication?”

“Apakah proses authentication memengaruhi customer journey?”

“Bagaimana fraud dan chargeback dikelola?”

Di sinilah payment strategy mulai menjadi bagian dari business strategy.

3DS Bukan Sekadar Tombol OTP

Pada akhirnya, 3DS bukan hanya tentang muncul atau tidak munculnya halaman OTP. Di balik satu transaksi kartu online terdapat beberapa proses yang saling terhubung:

Merchant → Payment Gateway → 3DS Server → Card Network → Issuer → Authentication → Authorization

Masing-masing memiliki peran dalam memastikan transaksi dapat diproses dengan aman dan efisien. Dan yang menarik, customer mungkin hanya melihat satu hal:

“Payment Successful.”

Sebagian besar proses lainnya terjadi di belakang layar.

Payment yang Baik Adalah Payment yang Sesuai dengan Kebutuhan Bisnis Anda

Untuk bisnis yang sedang bertumbuh, payment infrastructure sebaiknya tidak hanya dilihat dari berapa banyak metode pembayaran yang tersedia. Lebih jauh dari itu, bisnis perlu melihat bagaimana payment system mendukung:

Security + Customer Experience + Conversion + Risk Management

3DS dapat membantu memberikan lapisan autentikasi tambahan untuk transaksi kartu online, sekaligus memungkinkan pendekatan risk-based authentication yang dapat meminimalkan friction ketika additional challenge tidak diperlukan.

Sementara itu, Non-3DS memberikan payment flow tanpa proses autentikasi 3DS, sehingga dapat menjadi bagian dari konfigurasi payment tertentu sesuai kebutuhan bisnis dan pengelolaan risikonya. Jadi, pembahasannya bukan sekadar:

“3DS atau Non-3DS?”

Melainkan:

“Payment flow seperti apa yang paling sesuai dengan karakter transaksi, customer, dan risk profile bisnis kita?”

Karena ketika bisnis sudah memiliki ribuan hingga jutaan transaksi, satu langkah kecil di checkout bisa menjadi bagian besar dari customer experience. Dan di balik tombol Pay, ada jauh lebih banyak hal yang bekerja daripada yang terlihat.